Part 2
Toilet Training
Pada dasarnya kemandirian dapat terwujud melalui proses yang terus-menerus dari mulai usia dini. Proses pembentukan kemandirian pertama kali terdapat pada keluarga. Karena keluarga merupakan tempat pertama dimana seseorang lahir dan mendapatkan pengasuhan dari bayi sampai beranjak dewasa. Dalam keluarga seorang anak akan belajar mengenai kebiasaan baik, yang merupakan modal untuk menjalani hidup dan meraih cita-cita. Salah satu kebiasaan baik yang diajarkan dalam keluarga adalah toilet training.
Toilet Training adalah bagian dari latihan mengelola tugas badi anak. Salah satu tujuan dari kegiatan Toilet Training agar anak mampu mengelola waktu, disiplin dalam melaksanakan tugas sesuai waktunya. Ketika kita serius melakukan kegiatan Toilet Training maka secara tidak langsung kita sudah memberikan kesempatan kepada anak bahwa dia saat ini sedang belajar sikap mandiri.
Toilet Training adalah cerminan pembiasaan di rumah. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengenal tanda-tanda, bahwa dirinya ingin buang air kecil, anak belajar merasakan, mengetahui dan menahan sejenak supaya dia punya waktu untuk berjalan ke kamar mandi dan buang air kecil di sana.
Anak yang kurang pengalaman dalam menahan akan berpengaruh terhadap kempuannya menahan yang lain, misalnya menahan apa yang dia mau, menahan emosi, menahan tuntutan kepada orang lain, menahan rasa malu dan sebagainya. Menahan rasa malu yang belum berkembang mengakibatkan anak mudah buang air kecil sembarangan atau mengompol. Selain itu sikap orang dewasa dalam merespon anak yang mengompol juga menentukan bagaimana anak mencari solusi agar belajar menahan diri, terutama ketika di tempat umum.
Toilet Training adalah media latihan kemandirian emosi. Ketika seorang anak tidak berkembang kemampuan mandiri secara emosi apalagi terbawa sampai dewasa, hal ini akan mengakibatkan dewasanya si anak akan mengalami banyak kesulitan dalam mengendalikan diri .
Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil atau buang air besar. Toilet training secara umum dapat dilaksanakan pada setiap anak yang sudah mulai memasuki fase usia todler yaitu 1-3 tahun (Hockenbernry, Wilson, & Wong). Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan toilet training adalah perilaku orangtua atau ibu yang mengajarkan toilet training secara baik dan benar, sehingga anak dapat melakukan secara baik dan benar hingga besar kelak (Warner, 2007; Barone, 2009).
Hal pertama yang harus dipersiapkan dalam toilet training adalah komitmen orang tua. Kesiapan orang tua sangatlah penting karena orangtua terutama ibu yang akan memotivasi anak, menerangkan tanda-tanda ingin BAK/BAB, dan mengajarkan anak bagaimana caranya BAB/BAK di toilet. Proses ini cukup merepotkan dan melelahkan karena sang ibu harus segera membersihkan lantai ketika anak mengompol, sigap membawa anak yang ingin BAK/BAB ke toilet.
Suksesnya pembelajaran toilet training adalah adanya kesiapan semua anggota keluarga terutama orang tuanya. Dalam menerapkan toilet training harus dilakukan persiapan-persiapan terutama orang tua dan anak. Bagaimana cara melakukan persiapan kegiatan toilet training? Orang tua harus mengenal tanda-tandanya.
Tanda seorang anak sudah siap untuk toilet training menurut IDAI diantaranya adalah sudah mampu menirukan Anda dan menunjukkan rasa tertarik untuk belajar, misalnya mengikuti Anda ke kamar mandi. Mampu mengembalikan benda-benda ke tempatnya, baik diminta ataupun tidak. Mampu menunjukkan tanda kemandirian dengan berkata tidak. Mampu berjalan dan duduk dengan baik. Mampu menyampaikan rasa ingin buang air (kecil atau besar). Mampu melepas dan mengenakan pakaiannya.
Yang paling penting bagi orang tua untuk melakukan kegiatan toilet training adalah melakukan secara bertahap. Hal ini karena setiap anak memeiliki kemampuan masing-masing. Ketika kegiatan toilet training sudah berjalan maka yang perlu dilakukan orang tua adalah menjaga konsistensi.
Tantangan terbesar dalam menjalankan program toilet training
adalah mengendalikan emosi, karena orang tua dituntut kesabaran yang sangat tinggi agar tidak menyerah terutama ketika menghadapi anak-anak yang lambat dalam menjalankan tahapannya.
Adapun tahapan dalam menjalankan toilet training adalah sebagai berikut :
1. Tahap pengenalan, yaitu membangun sebuah komunikasi untuk mengenalkan pentingnya toilet training.
2. Tahap pembiasaan, yaitu mulai membangun pembiasaan misalnya ketika ada tanda-tanda segera anak diajak ke kamar mandi. mulai membangun pemahaman jangka waktu atau jarak antar BAK.
3. Tahap pemantapan yaitu memberikan apresiasi terhadap keberhasilan anak dalam menjalankan program tersebut.
Selain tahapan di atas ada juga proses toilet training yang harus di bangun pada diri anak saat berlatih toilet training yaitu :
1. Melepas popok sekali pakai.
2. Mengenalkan adab dan aturan di kamar mandi.
3. Mengenalkan konsep, bersih, suci dan najis.
Apabila proses dan tahapan toilet training dilakukan secara benar, konsekuen dan konsisten maka latihan kemandirian tahap toilet training akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadapa proses kemandirian anak.
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat
Tulisan ini saya rangkum dari beberapa sumber salah satunya adalah buku yang di tulis oleh ibu Ani Christina yang berjudul tuntas kemandirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar